foto/radionz.co.nz Filep, tak pernah putus asa. Bahkan ia selalu hadir di tengah-tengan barisan rakyat pencari keadilan di negeri ini. Ia sangat lantang bersuara. Mungkin begitu Filep mengeksperesikan kekecewaannya terhadap Negara yang tak berbagi keadilan. Lelaki Papua ini tidak begitu khawatir atas dirinya dan keluarganya, sebab ia sudah mapan-mungkin keadilan tak perlu lagi baginya. Tapi ia sadar. Bahwa ia hidup tak sendiri, ia hidup bersama Rakyat Indonesia, hidup bersama etnik di ujung Nusantara yang jauh dari perhatian Negara. Jika Negara adil, Filep tak mungkin berteriak, tak mungkin masuk hutan, tak mungkin melawan Negara. Ia benar-benar sadar bahwa negeri ini separuhnya di hidupi oleh tanah Papua, bahkan tidak sedikit mutiara dari Timur Indonesia ini menghamrumkan nama bangsa ini di tingkat Dunia. Baginya, sudah cukup alasan untuk melawan ketidak adilan dan rela menaggalkan pengabdiannya terhadap Negara ini. Ia memilih bergabung dalam gerakan melawan Soerharto, Presiden ...